
Nenek Kadoce: Gadis dari Kampung Haria dan Pohon Waringin di Saparua
Kampung Haria dan Anak Tukang Kayu Di Pulau Saparua ada sebuah negeri bernama Haria. Pagi di sana tidak dibangunkan oleh jam, melainkan oleh bunyi-bunyian yang
Bagi masyarakat Maluku, sagu bukan sekadar bahan pangan, melainkan filosofi hidup tentang keberlanjutan, kesabaran, dan pengikat persaudaraan melalui hangatnya sajian papeda. Identitas budaya ini juga terpancar tegar dalam indahnya Baju Cele dan Kain Lenso—simbol kesederhanaan, keberanian, serta kebanggaan tradisi. Tak kalah memikat, kekayaan cerita tutur Maluku turut menyimpan pesan moral yang mendalam. Dari kisah legendaris Nenek Luhu, nasihat Batu Badaong, hingga dongeng mistis Botol Manci, setiap cerita hadir bukan sekadar hiburan, melainkan benteng etika dan penghormatan terhadap alam serta sesama.
SaguOnito hadir sebagai ruang kajian dan dokumentasi yang menelusuri sejarah, kebudayaan, seni, serta pengetahuan lokal tersebut melalui pembacaan kritis terhadap berbagai sumber. Pendekatan kami meliputi studi pustaka, penelusuran arsip dan dokumen, analisis komparatif, sintesis penelitian terdahulu, serta dokumentasi tradisi lisan dan kesaksian budaya. Setiap sumber dibaca berdasarkan konteks, asal-usul, dan karakteristiknya, dengan membedakan antara fakta yang didukung dokumentasi, interpretasi penulis, hipotesis yang masih perlu diteliti, dan pengetahuan yang diwariskan oleh komunitas.
Melalui tulisan dan dokumentasi ini, SaguOnito berupaya memperluas akses terhadap pengetahuan, menghubungkan berbagai sumber yang tersebar, serta turut merawat warisan sejarah dan budaya tanpa mengabaikan kompleksitas maupun kewenangan masyarakat pemilik tradisi. Sebab bagi kami, budaya Maluku bukanlah kisah masa lalu, melainkan jiwa yang terus memandu langkah kita hari ini.

Kampung Haria dan Anak Tukang Kayu Di Pulau Saparua ada sebuah negeri bernama Haria. Pagi di sana tidak dibangunkan oleh jam, melainkan oleh bunyi-bunyian yang

Malam itu bulan bulat sempurna. Lampu teras sengaja dimatikan, supaya cahaya bulan jatuh utuh di halaman. Tiga cucu duduk berdempetan di atas tikar, dan Opa

Sore itu langit Ambon aneh. Matahari belum mau pamit, tetapi gerimis sudah turun pelan-pelan di atas seng. “Nenek, kenapa kita seng boleh main di luar

Bagi siapa pun yang menyelami khazanah sastra lisan Maluku, nama Hena Masa Waya (atau kerap dieja Hena Masa Waja, Hiena-Masa-Waja, hingga Masawaya) menyimpan daya tarik

Ada dua kain merah yang menarik ketika kita berbicara tentang kebudayaan Maluku. Yang pertama adalah Kain Berang, kain merah yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat

Di sebuah negeri di pesisir Ambon, ketika sangaskara perlahan tenggelam di balik cakrawala, malam selalu membawa cerita tersendiri. Angin laut berembus dingin, bergesekan dengan rumpun

Di pesisir pulau-pulau Maluku yang diikat oleh deburan ombak dan tiupan angin laut, terukir sebuah kisah persaudaraan abadi antara tiga negeri (desa): Buano, Oma, dan

Haman Semper durhaka. Itu yang terlintas saat mendengar cerita kakek nenek di Ambon. Bentuk nasihat yang diberikan oleh ibunya selalu dibalas dengan pukulan menggunakan tongkat,

Ritual Pataheri merupakan sebuah rangkaian ritual yang diadakan untuk menginisiasi kedewasaan seorang pria pada Suku Naulu dipedalaman Pulau Seram – Maluku yang ditandai dengan ikat

Ullath nama negeri ini sebenarnya berasal dari bahasa daerah Maluku, yaitu ‘urat’ yang berarti ‘jamur kilat’. Jamur kilat adalah sejenis jamur atau cendawan yang hidupnya

Pela adalah suatu sistem hubungan sosial yang dikenal dalam masyarakat Maluku berupa suatu perjanjian hubungan antara satu negeri (kampung) dengan kampung lainnya yang biasanya berada