Ada dua kain merah yang menarik ketika kita berbicara tentang kebudayaan Maluku. Yang pertama adalah Kain Berang, kain merah yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Nuaulu di Pulau Seram. Yang kedua adalah kain lenso merah, yang dalam konteks masyarakat Maluku di Belanda dikenal sebagai Lenso Merah, berupa saputangan merah yang sering hadir dalam bentuk rode boerenzakdoek. Sekilas, keduanya tampak sederhana: sama-sama merah dan berbentuk kain. Bahkan, jika hanya dilihat sebagai benda, keduanya mungkin mudah dianggap memiliki hubungan yang sama. Namun, sebenarnya tidak demikian.
Kain Berang tidak sama dengan kain lenso merah. Keduanya berasal dari perjalanan sejarah yang berbeda, digunakan dalam konteks yang berbeda, dan memperoleh makna budaya melalui jalan yang berbeda pula. Justru karena itulah, mempertemukan keduanya dalam satu cerita menjadi menarik. Kain Berang membawa kita ke Pulau Seram, ke dalam tradisi masyarakat Nuaulu dan ritual kedewasaan seorang laki-laki. Sementara itu, kain lenso merah membawa kita mengikuti perjalanan sebuah saputangan yang melintasi batas budaya, bergerak melalui sejarah tekstil dan perdagangan, lalu memperoleh makna baru dalam kehidupan masyarakat Maluku, terutama dalam pengalaman diaspora di Belanda. Jadi, dalam cerita ini, Kain Berang bukanlah asal-usul Lenso Merah, melainkan menjadi pembanding yang membantu kita melihat dengan lebih jelas bagaimana dua kain merah dapat memiliki dua jalan sejarah yang berbeda.
Kain Berang: Merah dalam Tradisi Nuaulu
Untuk memahami perbedaan itu, kita bisa memulainya dari Pulau Seram. Di pulau inilah masyarakat Nuaulu hidup dan mempertahankan berbagai tradisi adat yang diwariskan lintas generasi. Salah satu konteks penting tempat kain merah hadir adalah Pataheri, yaitu ritual inisiasi bagi anak laki-laki Nuaulu. Dalam ritual tersebut, kain berang berwarna merah, dalam kajian etnografis disebut karanununaka, dikenakan untuk menutup kepala. Pemakaiannya bukan sekadar persoalan pakaian, melainkan hadir pada sebuah tahap penting dalam kehidupan seorang laki-laki: ketika seorang anak memasuki masa kedewasaan dan mulai memperoleh tanggung jawab sebagai manusia dewasa dalam masyarakatnya.
Oleh karena itu, makna Kain Berang tidak berhenti pada warna merahnya semata. Kain tersebut berada di dalam sebuah sistem adat yang berkaitan dengan kedewasaan, tanggung jawab, keberanian, dan identitas sosial. Ritual Pataheri sendiri merupakan bagian dari proses pendewasaan anak laki-laki Nuaulu. Setelah melewati proses tersebut, seorang laki-laki dipandang telah siap menjalankan tanggung jawab sosialnya, termasuk dalam kehidupan keluarga. Di sinilah kita dapat melihat bahwa sebuah kain dapat memiliki arti yang jauh lebih besar daripada fungsi materialnya. Kain Berang bukan sekadar kain merah, melainkan hadir sebagai bagian dari sebuah perjalanan hidup. Karena konteks itulah, penting untuk kembali menegaskan bahwa Kain Berang bukanlah Lenso Merah. Keduanya sama-sama merah, tetapi warna yang sama tidak membuat keduanya menjadi benda budaya yang sama.
Dari Pulau Seram, Cerita Berjalan ke Tempat yang Berbeda
Jika Kain Berang membawa kita masuk ke dalam sebuah tradisi adat di Pulau Seram, kain lenso merah membawa kita ke jalan yang berbeda. Istilah lenso berkaitan dengan bahasa Portugis, lenço, yang berarti saputangan. Dalam konteks masyarakat Maluku, benda ini dikenal sebagai kain lenso. Erfgoed Tilburg mencatat bahwa kain lenso masih digunakan dalam komunitas Maluku, terutama dalam kesempatan-kesempatan khusus, dan bentuk yang kini sering digunakan adalah kain petani merah bercetak (rode boerenzakdoek).
Pada titik ini, kain tersebut mungkin masih tampak sebagai benda sederhana: sebuah saputangan merah. Namun, sebuah benda tidak selalu berhenti pada fungsi awalnya. Saputangan dapat digunakan sehari-hari, dikenakan, maupun diberikan kepada orang lain. Ketika sebuah benda masuk ke dalam kehidupan sosial, benda itu dapat memperoleh makna yang tidak terdapat pada fungsi praktisnya semula. Dalam budaya Maluku, Erfgoed Tilburg mencatat bahwa saputangan dapat diberikan sebagai simbol kekuatan dan dukungan. Maka secara perlahan, kain lenso merah tidak lagi hanya berbicara tentang benda yang digunakan untuk keperluan praktis, melainkan mulai berbicara tentang hubungan antaramanusia, pemberian, dukungan, dan dalam perjalanan berikutnya, tentang identitas.
Ketika Boerenzakdoek Menjadi Lenso Merah
Ada satu hal yang penting untuk diperjelas sebelum cerita ini berjalan lebih jauh. Kata lenso memiliki konteks yang luas, tetapi dalam artikel ini, yang dimaksud adalah kain lenso merah yang dikenal sebagai Lenso Merah atau rode zakdoek dalam konteks masyarakat Maluku. Wereldmuseum Nijmegen secara khusus menyebut Lenso Merah sebagai “de rode zakdoek”, yaitu saputangan merah yang hadir dalam kehidupan budaya masyarakat Maluku. Dalam kegiatan mereka mengenai Lenso Merah, benda tersebut juga disebut sebagai boerenzakdoek. Pembedaan ini penting karena sebuah kata dapat memiliki sejarah yang lebih luas daripada benda yang sedang kita bicarakan. Jadi, kita tidak sedang menyamakan semua benda yang pernah disebut lenso, melainkan mengikuti satu bentuk yang lebih spesifik: kain lenso merah yang kemudian dikenal sebagai Lenso Merah.
Di sinilah perjalanan sebuah benda menjadi semakin menarik. Sebuah saputangan yang berasal dari lingkungan tekstil Eropa dapat masuk ke dalam kehidupan masyarakat Maluku dan kemudian memperoleh lapisan makna yang berbeda. Hal ini terjadi bukan semata-mata karena bentuknya, melainkan karena orang-orang yang menggunakannya memberikan makna baru terhadap benda tersebut.
Pertukaran Pengetahuan dan Estetika
Untuk memahami bagaimana sebuah benda tekstil dapat berpindah dari satu lingkungan budaya ke lingkungan lainnya, kita perlu melihat dunia tekstil yang lebih luas. Salah satu bagian dari sejarah tersebut dapat ditemukan dalam hubungan antara batik Jawa dan perkembangan industri tekstil Eropa. Batik Jawa berkembang melalui teknik perintangan warna menggunakan malam, yang dalam batik tulis diaplikasikan menggunakan canting. Di balik setiap pola, terdapat keterampilan tangan dan pengetahuan mengenai bahan, warna, serta motif yang berkembang dalam lingkungan budaya Nusantara.
Ketika batik Jawa mulai dikenal di Eropa, estetika dan teknik tersebut menjadi bagian dari perjumpaan dengan industri tekstil yang sedang berkembang. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk menghasilkan kain bermotif batik melalui teknologi pencetakan mekanis. Namun, sejarah ini perlu dibaca dengan hati-hati. Tidak tepat jika kita menyederhanakannya dengan mengatakan bahwa batik Jawa secara langsung memicu Revolusi Industri. Lebih tepat untuk melihatnya sebagai salah satu contoh bagaimana pengetahuan dan estetika Nusantara ikut masuk ke dalam arus inovasi dan perdagangan tekstil global. Dalam perjalanan tekstil semacam itu, sebuah motif, teknik, atau gagasan dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain, lalu diterjemahkan kembali melalui teknologi dan kebutuhan masyarakat yang berbeda.
Salah satu nama yang penting dalam perkembangan tekstil cetak Eropa adalah Vlisco. Pada abad ke-19, perusahaan tersebut mengembangkan kain yang terinspirasi oleh batik untuk pasar internasional. Teknologi pencetakan mekanis memungkinkan pola tekstil diproduksi dengan cara yang berbeda dari batik tulis yang mengandalkan canting dan malam. Kain tersebut kemudian bergerak melalui jaringan perdagangan internasional. Ketika sebuah kain bergerak, kehidupannya pun dapat berubah: lahir sebagai produk industri, berpindah melalui perdagangan, digunakan oleh masyarakat yang berbeda, lalu memperoleh makna baru dalam lingkungan budaya yang baru. Inilah salah satu kunci untuk memahami perjalanan benda-benda tekstil, yaitu bahwa sebuah kain dapat memiliki lebih dari satu kehidupan budaya.
Sapoe Tangan Merah dan Jejak Sejarah yang Berbeda
Kain atau saputangan merah juga muncul dalam catatan sejarah masyarakat Maluku pada masa pendudukan Jepang. Dalam sejumlah catatan mengenai jaringan perlawanan di Sumatra, dikenal istilah Sapoe Tangan Merah atau Rode Zakdoek. Sejumlah orang Maluku, termasuk mantan anggota KNIL, tercatat berkaitan dengan jaringan tersebut. Namun, bagian sejarah ini perlu ditempatkan secara hati-hati. Keberadaan saputangan merah dalam konteks tersebut tidak berarti bahwa setiap orang Maluku yang mengenakan saputangan merah merupakan bagian dari jaringan perlawanan.
Sebuah benda dapat hadir dalam konteks yang berbeda pada waktu yang berbeda. Oleh karena itu, Sapoe Tangan Merah tidak perlu secara otomatis disamakan dengan identitas Lenso Merah yang berkembang kemudian. Lebih tepat jika jejak ini dibaca sebagai salah satu bagian dari sejarah yang memperlihatkan bahwa kain atau saputangan merah pernah hadir dalam pengalaman masyarakat Maluku dalam konteks yang berbeda. Dengan demikian, kita tidak perlu memaksakan semua jejak sejarah tersebut menjadi satu garis lurus. Justru di situlah menariknya perjalanan sebuah benda budaya; satu benda dapat melewati banyak tempat, waktu, dan pengalaman manusia.
1951: Ketika Perjalanan Berubah Menjadi Diaspora
Kemudian datang sebuah babak penting, yaitu tahun 1951. Sekitar 12.500 orang Maluku, terutama anggota KNIL beserta keluarga mereka, dipindahkan dari Indonesia ke Belanda dalam 12 perjalanan menggunakan 11 kapal antara bulan Februari dan Juni 1951. Salah satu kapal yang tercatat dalam perjalanan itu adalah Kota Inten, yang tiba di Rotterdam pada 21 Maret 1951 dengan membawa sekitar 900 orang. Perjalanan tersebut berlangsung dalam situasi politik yang kompleks setelah perubahan politik di Indonesia pada 1950 dan konflik yang berkaitan dengan Republik Maluku Selatan.
Bagi mereka yang berangkat, perjalanan menuju Belanda pada awalnya dipahami dalam konteks yang berbeda-beda. Bagi sebagian orang, terdapat harapan bahwa kehidupan di sana akan bersifat sementara. Namun, sejarah kemudian berjalan dengan cara yang berbeda; sebagian besar dari mereka akhirnya tidak kembali ke Maluku dan tinggal di berbagai tempat penampungan (woonoorden) di Belanda. Perjalanan yang pada awalnya merupakan perpindahan tempat ini kemudian berkembang menjadi bagian dari sejarah diaspora masyarakat Maluku di Belanda.
Ketika seseorang hidup jauh dari tempat asalnya, benda-benda kecil terkadang memperoleh arti yang besar—bukan hanya kain, melainkan bisa berupa foto, musik, makanan, bahasa, atau benda sederhana lain yang dapat mengingatkan seseorang kepada keluarga dan tanah kelahirannya. Dalam konteks seperti inilah kita dapat mulai memahami mengapa sebuah saputangan merah dapat berkembang menjadi lebih dari sekadar saputangan.
Ketika Saputangan Menjadi Cerita tentang Identitas
Di sinilah perjalanan Lenso Merah memasuki lapisan yang paling menarik. Wereldmuseum Nijmegen menggunakan Lenso Merah sebagai salah satu pintu masuk untuk membicarakan identitas masyarakat Maluku. Dalam materi mereka tentang Lenso Merah, muncul pertanyaan: “Sapa punja?” (Siapa kamu?, atau dalam konteks lain: Siapa yang memiliki benda ini?). Pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka cerita yang jauh lebih panjang. Menurut Wereldmuseum, pertanyaan semacam itu dapat muncul dalam komunitas Maluku ketika orang bertemu, berkumpul bersama keluarga, atau berada dalam suasana sosial. Di baliknya, terdapat cerita tentang keluarga, asal-usul, dan keterhubungan.
Dengan demikian, Lenso Merah dapat dipahami bukan hanya sebagai sebuah benda tekstil, melainkan sebagai pembawa cerita: cerita tentang siapa seseorang, dari mana keluarganya berasal, dengan siapa ia terhubung, dan bagaimana sebuah komunitas mempertahankan ingatan tentang asal-usulnya. Sebuah saputangan merah yang secara fisik sangat sederhana kemudian memperoleh makna yang jauh lebih luas. Benda tersebut menjadi bagian dari hubungan antara individu dan komunitas, antara satu generasi dan generasi berikutnya, antara keluarga dan sejarah, serta antara tempat seseorang tinggal sekarang dan tempat asal yang terus hidup dalam ingatan.
“Tanah Air Portabel”
Dari sinilah kita bisa menggunakan sebuah metafora: Lenso Merah dapat dibaca sebagai semacam “tanah air portabel”. Tentu saja, istilah tersebut bukan nama resmi atau istilah historis yang digunakan komunitas Maluku untuk menyebut kain tersebut, melainkan sebuah cara untuk membaca makna simbolisnya. Sebuah benda kecil dapat membawa cerita yang jauh lebih besar tentang keluarga, asal-usul, komunitas, dan keterhubungan.
Sebuah kain dapat dibawa ke tempat yang jauh, disimpan, diberikan kepada orang lain, dan dikenakan kembali pada kesempatan tertentu. Melalui tindakan-tindakan sederhana itu, benda tersebut terus hidup dalam ingatan. Dalam kehidupan diaspora, hal-hal semacam ini menjadi sangat penting. Ketika seseorang tidak lagi tinggal di tanah tempat leluhurnya berasal, hubungan dengan asal-usul tidak selalu dipertahankan melalui benda-benda besar, tetapi kadang justru melalui sesuatu yang kecil seperti foto, kain, atau saputangan merah. Karena itu, Lenso Merah menarik bukan hanya karena warna, bentuk, atau asal-usul tekstilnya, melainkan karena menunjukkan bagaimana sebuah benda dapat menjadi bagian dari cerita tentang identitas Maluku di luar Maluku.
Dari Benda Perdagangan Menjadi Benda Budaya
Jika kita mengikuti perjalanan Lenso Merah dari awal hingga titik ini, kita menemukan sebuah proses yang panjang: sebuah benda datang dari luar, berpindah melalui perdagangan, digunakan dalam kehidupan sehari-hari, memperoleh fungsi sosial, diberikan kepada orang lain, digunakan dalam kesempatan tertentu, dan seiring berjalannya waktu, menjadi bagian dari cara sebuah komunitas menceritakan dirinya sendiri.
Dalam kasus Lenso Merah, beberapa lapisan perjalanan tersebut dapat dilihat dari sumber-sumber kebudayaan yang ada. Erfgoed Tilburg mencatat hubungan lenso dengan lenço, penggunaan saputangan merah bercetak sebagai rode boerenzakdoek, serta fungsi pemberian kain sebagai simbol kekuatan dan dukungan. Sementara itu, Wereldmuseum Nijmegen menempatkan Lenso Merah dalam konteks yang lebih luas: keluarga, asal-usul, identitas, dan keterhubungan masyarakat Maluku. Di antara kedua lapisan tersebut terdapat sejarah yang panjang, dan justru sejarah panjang itulah yang membuat Lenso Merah menarik—bukan karena sejak awal diciptakan sebagai simbol identitas Maluku, melainkan karena dalam perjalanan waktu, benda tersebut memperoleh makna baru dari orang-orang yang menggunakannya.
Dua Kain Merah, Dua Jalan Sejarah
Pada akhirnya, kita kembali kepada dua kain merah yang menjadi awal cerita: Kain Berang dan Lenso Merah. Keduanya sama-sama membawa warna merah, tetapi keduanya bukan kain yang sama. Kain Berang berakar pada tradisi masyarakat Nuaulu di Pulau Seram. Dalam Ritual Pataheri, kain merah tersebut dikenakan di kepala sebagai bagian dari proses pengesahan kedewasaan dan tanggung jawab seorang laki-laki dalam masyarakatnya.
Di sisi lain, Lenso Merah menempuh jalan yang berbeda. Ia berada dalam sejarah saputangan lenso, berkaitan dengan istilah Portugis lenço, hadir dalam bentuk rode boerenzakdoek, kemudian memperoleh lapisan makna baru dalam kehidupan masyarakat Maluku. Dalam konteks masyarakat Maluku di Belanda, Lenso Merah bahkan menjadi medium untuk membicarakan keluarga, asal-usul, identitas, dan keterhubungan. Karena itu, kedua kain ini tidak perlu dipaksakan menjadi satu cerita yang sama. Justru perbedaannya adalah cerita itu sendiri.
Berikut adalah ringkasan perbandingan antara kedua kain merah tersebut:
| Kriteria Perbandingan | Kain Berang | Lenso Merah |
|---|---|---|
| Asal-usul | Berakar lokal dari tradisi adat masyarakat Nuaulu di Pulau Seram. | Berakar dari perdagangan dan perjumpaan lintas budaya; dipengaruhi istilah Portugis (lenço) dan bentuk tekstil Eropa (rode boerenzakdoek). |
| Bentuk & Penampilan | Kain merah penutup kepala (karanununaka). | Saputangan merah bercetak motif petani (boerenzakdoek). |
| Konteks Penggunaan | Dipakai khusus dalam ritual adat (Pataheri), yaitu ritual inisiasi kedewasaan anak laki-laki. | Digunakan dalam kehidupan sosial sehari-hari, kesempatan khusus komunitas, pemberian antarpersonal, dan acara kebudayaan. |
| Fungsi Utama | Pengesahan status kedewasaan dan simbol kesiapan menerima tanggung jawab sosial/keluarga. | Praktis (saputangan), penunjuk dukungan/kekuatan sosial, serta medium penjelas identitas sosial. |
| Makna Budaya | Menyimbolkan kedewasaan, tanggung jawab sosial, keberanian, dan identitas adat Nuaulu di tanah asal (Pulau Seram). | Menyimbolkan keterhubungan, ikatan keluarga, ingatan asal-usul, dan “tanah air portabel” bagi masyarakat diaspora Maluku (terutama di Belanda). |
Kain Berang memperlihatkan bagaimana kain dapat menjadi bagian dari ritual dan identitas adat, sedangkan Lenso Merah memperlihatkan bagaimana sebuah benda yang mengalami perjalanan lintas budaya dapat memperoleh makna baru ketika masuk ke dalam kehidupan sebuah komunitas. Yang satu berakar di Pulau Seram, sedangkan yang lain membawa kita mengikuti perjalanan menuju diaspora. Yang satu hadir dalam sebuah ritual kedewasaan, sedangkan yang lain dapat membawa cerita tentang keluarga, asal-usul, dan keterhubungan.
Dua jalan sejarah yang berbeda, dua konteks budaya yang berbeda, dan dua kain merah yang tidak perlu disatukan untuk dapat diceritakan bersama. Sebab pada akhirnya, keduanya menunjukkan sesuatu yang sama: sebuah kain tidak pernah hanya menjadi kain ketika manusia memberinya makna. Ia dapat menjadi tanda, kenangan, pemberian, dan penghubung. Dalam perjalanan waktu, benda yang sederhana dapat menjadi bagian dari cara sebuah masyarakat mengingat siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan bagaimana ia terhubung dengan orang lain.
Daftar Istilah Bahasa Asing dan Daerah
| Istilah | Asal / Kategori | Penjelasan Sesuai Teks |
|---|---|---|
| Pataheri | Bahasa Daerah (Nuaulu) | Ritual inisiasi pendewasaan bagi anak laki-laki masyarakat adat Nuaulu di Pulau Seram. |
| karanununaka | Bahasa Daerah (Nuaulu) | Sebutan etnografis untuk kain berang berwarna merah yang dikenakan sebagai penutup kepala dalam ritual Pataheri. |
| lenço | Bahasa Portugis | Kata asal yang berarti saputangan, yang menjadi asal-usul istilah lenso dalam budaya Maluku. |
| rode boerenzakdoek | Bahasa Belanda | Kain saputangan merah bercetak gaya petani tradisional Eropa yang digunakan sebagai bentuk fisik dari kain lenso merah. |
| boerenzakdoek | Bahasa Belanda | Saputangan motif petani Eropa yang dijadikan acuan fisik Lenso Merah. |
| rode zakdoek / de rode zakdoek | Bahasa Belanda | Sebutan harfiah untuk “saputangan merah” dalam konteks budaya masyarakat Maluku di Belanda. |
| Erfgoed Tilburg | Bahasa Belanda (Nama Lembaga) | Lembaga/organisasi warisan budaya di Tilburg, Belanda, yang mencatat sejarah penggunaan kain lenso. |
| Wereldmuseum Nijmegen | Bahasa Belanda (Nama Museum) | Museum etnologi di Nijmegen, Belanda, yang memamerkan dan mengkaji identitas Lenso Merah masyarakat Maluku. |
| Sapoe Tangan Merah | Ejaan Lama / Bahasa Daerah | Istilah jaringan perlawanan masyarakat Maluku (termasuk mantan anggota KNIL) di Sumatra pada masa pendudukan Jepang. |
| Kota Inten | Nama Kapal | Salah satu dari 11 kapal yang mengangkut diaspora Maluku dan tiba di Rotterdam pada 21 Maret 1951. |
| woonoorden | Bahasa Belanda | Tempat-tempat penampungan atau permukiman sementara bagi diaspora Maluku saat tiba di Belanda. |
| “Sapa punja?” | Bahasa Melayu Ambon / Daerah | Ungkapan yang berarti “Siapa punya?” (Siapa kamu? / Siapa pemegang benda ini?), digunakan untuk membuka dialog sejarah keluarga dan asal-usul. |