Di pesisir pulau-pulau Maluku yang diikat oleh deburan ombak dan tiupan angin laut, terukir sebuah kisah persaudaraan abadi antara tiga negeri (desa): Buano, Oma, dan Ullath.
Meskipun terpisah oleh jarak dan lautan—Buano yang berada di Seram Bagian Barat, Oma di Pulau Haruku, dan Ullath di Pulau Saparua—ketiganya terikat dalam tatanan adat Pela Gandong yang amat sakral. Kisah ini bercerita tentang bagaimana ikatan darah dan janji leluhur menjaga persaudaraan mereka melintasi zaman.
Janji Sepanjang Hayat
Dahulu kala, para leluhur dari ketiga negeri bertemu dalam sebuah peristiwa besar yang menguji keberanian dan rasa kemanusiaan. Dalam suasana penuh rasa saling menghormati, mereka mengangkat sumpah di bawah langit Maluku.
“Poto kayu karu-karu, poto sama-sama. Mana-mana seng boleh lupa, katong tiga bersaudara.”
Mereka memotong jari, meneteskan darah ke dalam satu cawan yang sama, dan meminumnya bersama. Sumpah itu mengikat mereka bukan sekadar sebagai tetangga atau sahabat, melainkan sebagai gandong—saudara kandung dari satu rahim leluhur.
Janji itu sederhana namun mengikat hingga anak cucu:
- Jika satu negeri bersedih, yang lain ikut meratap.
- Jika satu negeri membangun, yang lain akan datang membawa bantuan.
- Dan di atas segalanya, tidak boleh ada perselisihan atau pernikahan di antara anak cucu ketiga negeri ini, karena mereka adalah darah daging yang sama.
Pertemuan di Pesisir Ullath
Suatu hari di Negeri Ullath, warga sedang bersiap menggelar pesta adat dan memperbaiki Baileo (rumah adat) yang sudah dimakan usia. Kabar itu berhembus cepat lewat angin laut, sampai ke telinga warga Negeri Oma dan Buano.
Tanpa perlu diundang secara resmi, perahu-perahu semang bertolak dari pelabuhan Oma dan pesisir Buano. Warga Buano membawa sagu, ikan kering, dan hasil hutan, sementara warga Oma membawa batu, kayu, dan hasil bumi mereka.
Saat perahu-perahu itu mendekati pantai Ullath, tiupan kerang (tahuri) bergema menyambut kedatangan mereka. Suara tifa bertalu-talu, diiringi nyanyian kapata yang menggetarkan dada.
“Sudah datang katong punya gandong dari Buano dan Oma!” teriak seorang tua adat di tepi pantai Ullath dengan mata berkaca-kaca.
Anak-anak muda dari ketiga negeri melompat ke air, saling merangkul tanpa peduli bahwa baju mereka basah kuyup. Tidak ada rasa canggung, tidak ada batasan. Suasana hari itu penuh dengan tangis haru, tawa, dan rasa rindu yang terbayarkan.
Gotong Royong
Selama berhari-hari, warga Buano, Oma, dan Ullath bekerja bersama. Warga Buano yang mahir dalam pertukangan kayu bekerja bahram-mengahram dengan pemuda Ullath, sementara warga Oma membantu menyusun batu dan menyediakan perbekalan.
Malam harinya, di bawah sinar bulan purnama, mereka berkumpul di pelataran Baileo. Makanan dihidangkan di atas daun pisang yang memanjang—paparada, colok-colok, dan ikan bakar dinikmati bersama. Tua-tua adat duduk melingkar, menceritakan silsilah dan sejarah perjuangan leluhur kepada para pemuda, agar api persaudaraan itu tidak pernah padam.
Seorang pemuda Buano tersenyum sambil menepuk pundak pemuda Ullath, “Katong mungkin terpisah laut, tapi kalau gandong panggil, jarak itu cuma air saja.”
Simbol Persatuan yang Abadi
Ketika pembangunan Baileo selesai dan perpisahan tiba, tidak ada rasa sedih yang tersisa, melainkan kebanggaan yang mendalam. Saat perahu warga Buano dan Oma mulai berlayar meninggalkan pelabuhan Ullath, warga Ullath berdiri di sepanjang pantai, melambaikan kain lenso merah mereka.
Hingga hari ini, ikatan antara Buano, Oma, dan Ullath tetap teguh. Zaman boleh berganti dan teknologi boleh berkembang, namun ikatan Pela Gandong ini menjadi bukti bahwa persaudaraan sejati di tanah Maluku tidak akan pernah tergerus oleh waktu maupun gelombang zaman.