Kampung Haria dan Anak Tukang Kayu
Di Pulau Saparua ada sebuah negeri bernama Haria. Pagi di sana tidak dibangunkan oleh jam, melainkan oleh bunyi-bunyian yang sudah dihafal semua orang: ayam jantan yang bersahutan dari kolong rumah, ombak kecil yang menepuk pasir, dan dari rumah paling ujung di jalan kampung, bunyi ketukan palu yang mulai sejak subuh.
Itu rumah tukang kayu.
Bapa dan Mama adalah dua orang yang tangannya hampir tidak pernah kosong. Bapa memotong, menyerut, dan menghaluskan papan sampai licin seperti kulit. Orang-orang Haria memesan apa saja kepadanya: tiang rumah, daun pintu, bangku panjang, kadang lunas perahu yang kayunya harus dipilih hati-hati supaya tidak lapuk dimakan garam. Mama yang menyapu serbuk kayu tiap sore, mengampelas papan sambil bersenandung, dan mengurus kebun kecil di belakang rumah, tempat singkong, pisang, dan sedikit sayur tumbuh seadanya di antara pohon-pohon yang lebih tua dari rumah itu sendiri.
Anak mereka hanya satu. Namanya Kadoce.
Orang-orang bilang Kadoce cantik jelita, dan mereka tidak mengatakannya sekali dua kali. Setiap kali ia lewat membawa keranjang atau menyapa tetangga, ada saja yang menoleh dua kali. Para ibu menyebut namanya sambil tersenyum, para pemuda pura-pura sibuk membetulkan jaring ketika ia lewat, dan para nenek yang duduk di depan rumah menggeleng-geleng sambil bergumam, “Anak tukang kayu itu, parasnya seperti tidak dibuat di kampung ini.”
Tetapi Kadoce sendiri tidak terlalu peduli. Ia lebih suka duduk di lantai bengkel, di antara serutan kayu yang menggulung-gulung seperti rambut keriting, lalu memasang gulungan terkecil di jarinya seakan-akan itu cincin. Bapa akan pura-pura marah, “Kadoce, jangan main-main di dekat pahat!” lalu diam-diam tersenyum, karena ia tahu anaknya tidak pernah menyentuh pahat tanpa izin.
Karena anak tunggal, Kadoce dimanja. Itu bukan rahasia. Bapa selalu menyisihkan potongan kayu paling bagus untuk dibuatkan sisir atau kotak kecil, dan Mama selalu menyimpan bagian ikan yang paling empuk di piringnya. Namun anehnya, kemanjaan itu tidak membuatnya manja. Kadoce bangun sebelum ayam kedua berkokok, menyapu halaman, menimba, menumbuk, mengangkat apa saja yang bisa ia angkat, dan menolak ketika ditawari bantuan.
“Ose ini anak tunggal, bukan anak raja,” kata Mama suatu kali sambil menyisir rambutnya. “Tapi Mama bersyukur ose tidak jadi anak raja.”
“Kenapa, Mama?”
“Karena anak raja jarang tahu cara membawa air sendiri.”
Kadoce tertawa. Ia belum tahu bahwa kalimat kecil itu, tentang air dan tentang membawa sendiri, akan terus ia ingat jauh sesudahnya, di tempat yang jauh dari dapur Mama.
Haria adalah negeri yang tenang. Sore hari, orang-orang duduk di depan rumah menunggu laut menggelap, anak-anak berlarian di jalan tanah, dan hampir tidak ada yang mengunci pintu. Tetapi seperti semua tempat yang tenang, Haria punya cerita-cerita kecil yang dibisikkan dari mulut ke mulut: tentang pohon yang tidak boleh ditebang sembarangan, tentang jalan yang sebaiknya tidak dilalui sendirian ketika hari sudah gelap, tentang siapa saja yang konon bisa muncul di tempat-tempat yang tidak seharusnya ada orang. Kadoce mendengar semuanya, tetapi seperti kebanyakan anak muda yang merasa dunia terlalu terang untuk menyimpan hal-hal gelap, ia tidak terlalu menghiraukannya.
Air Raja
Setiap kampung punya satu tempat yang menjadi jantungnya, dan bagi Haria, jantung itu adalah Air Raja. Di sanalah orang-orang mengambil air untuk keperluan sehari-hari: untuk minum, memasak, mencuci beras, memandikan bayi. Jalan ke sana sudah ditapaki puluhan tahun, sampai tanahnya padat dan mengilap, dan siapa pun yang berpapasan di jalan itu hampir selalu saling menyapa tanpa menghentikan langkah.
Pagi itu, Mama menyerahkan dua bumbung bambu yang sudah dicuci bersih.
“Kadoce, tolong ambilkan air ke Air Raja. Persediaan di rumah tinggal sedikit, dan Bapa mau merebus air untuk kopi sebelum lanjut kerja.”
“Ya, Mama.”
“Jangan lama-lama. Dan hati-hati di jalan.”
“Mama ini, Air Raja itu sudah seperti halaman belakang kita.”
Mama tersenyum, tetapi masih ada sesuatu yang ingin ia katakan. Ia mengatakannya juga, pelan, “Tetap saja. Hati-hati.”
Kadoce mengikatkan kain di pinggang, memanggul kedua bumbung, dan berangkat. Kalau saja ia tahu apa yang menunggu di jalan, mungkin ia akan menunda satu jam. Mungkin satu hari. Tetapi tidak ada yang tahu hal semacam itu pada pagi yang begitu biasa.
Jalan menuju Air Raja pagi itu sepi. Para ibu yang rajin sudah pulang dengan bumbung penuh, dan para pemuda sudah berangkat ke laut atau ke kebun. Matahari menyaring di antara daun-daun cengkeh, menjatuhkan bercak-bercak terang di tanah yang masih lembap. Burung-burung kecil melompat dari ranting ke ranting. Dari jauh terdengar suara anak-anak yang berteriak-teriak entah sedang bermain apa. Kadoce berjalan sambil bersenandung, mengayun bumbungnya mengikuti irama, dan memikirkan hal-hal kecil: apakah Mama sudah menjemur ikan asin, apakah Bapa jadi menyelesaikan pesanan bangku sebelum hari Minggu, apakah hujan akan turun sore nanti.
Setengah perjalanan, jalan itu menikung ke dalam teduh yang agak lebih gelap. Pohon-pohon di sana tumbuh lebih rapat, daun-daunnya menutup sebagian langit, dan bunyi anak-anak dari kejauhan mendadak seperti teredam. Kadoce sudah melewati tikungan itu ratusan kali tanpa pernah memikirkannya.
Pagi ini, di tikungan itu, ada seseorang yang berdiri.
Pemuda di Tengah Jalan
Ia seorang pemuda, dan ia tampan. Bukan tampan yang sekadar enak dipandang, melainkan tampan yang membuat orang lupa mengalihkan mata. Kulitnya bersih, pakaiannya rapi, dan wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang berdiri sendirian di jalan tanah. Ia tersenyum ketika melihat Kadoce.
“Selamat pagi,” katanya.
Kadoce membalas dengan anggukan dan melangkah terus. Haria itu kecil; ia hafal wajah hampir semua orang. Wajah ini tidak ia kenal, dan itu saja sudah membuatnya waspada.
Pemuda itu bergeser, menutup jalannya. “Boleh aku tahu namamu?”
“Untuk apa?”
“Karena aku ingin tahu nama perempuan yang akan jadi istriku.”
Kadoce berhenti. Sejenak ia tidak yakin telinganya mendengar dengan benar, lalu darahnya naik sampai ke pipi.
“Beta tidak kenal ose,” katanya tajam. “Jangan bicara sembarangan.”
“Aku tidak bicara sembarangan. Menikahlah denganku.”
“Minggir.”
Pemuda itu tidak membantah. Ia bergeser ke tepi jalan, perlahan, seolah-olah memberi jalan kepada seorang putri. Senyumnya tidak hilang. “Baiklah. Pergilah. Tapi dengarkan ini: suatu hari kau akan menjadi istriku. Aku bisa menunggu.”
“Mimpi saja sana,” balas Kadoce, lalu berjalan melewatinya tanpa menoleh. Jantungnya berdebar keras, lebih karena marah daripada takut, dan ia melangkah lebih cepat dari biasanya.
Di Air Raja, air mengalir jernih seperti biasa, dingin di tangan dan manis di lidah. Kadoce mengisi kedua bumbungnya sambil mengatur napas. Ia berniat menceritakan semuanya kepada Bapa nanti. Bapa akan tahu apa yang harus dilakukan, dan kalau pemuda itu orang dari kampung lain, para tetua bisa menegurnya. Ia membasuh muka, membetulkan ikatan kain, dan memanggul bumbungnya pulang.
Sepanjang jalan ia berharap pemuda itu sudah pergi.
Tetapi ketika ia sampai di tikungan yang teduh itu, pemuda itu berdiri di tempat yang sama, dengan senyum yang sama, dengan sikap yang sama seperti tadi. Seolah-olah ia tidak pernah bergerak sejak pagi. Seolah-olah waktu di tikungan itu berjalan dengan cara yang lain.
“Sudah kubilang,” katanya lembut, “aku bisa menunggu.”
Kadoce membuka mulut untuk membentaknya. Tidak ada suara yang keluar. Ia ingin menjatuhkan bumbungnya dan lari, tetapi kakinya tidak mau menurut. Ia ingin berteriak, tetapi pikirannya terasa seperti ditutup kabut tipis yang makin lama makin pekat.
Pemuda itu tidak menarik tangannya. Ia tidak memaksa. Ia hanya berkata, dengan suara yang rendah, hampir seperti nyanyian, “Mari.”
Dan Kadoce, yang tadi pagi berani menolaknya dengan seluruh kemarahannya, mengikutinya. Ia berjalan di belakang pemuda itu seperti orang yang berjalan dalam tidur, melewati jalan setapak yang tidak ia kenal, menuju sebuah rumah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Rumah yang Bukan Rumah
Sesudah itu, hari-hari berjalan dengan cara yang aneh, seperti benang yang digulung tanpa ada yang tahu siapa yang memutarnya. Kadoce tidak bisa mengingat dengan jelas bagaimana pernikahan itu terjadi. Yang ia ingat hanya potongan-potongan: suara orang-orang yang tidak ia kenal, aroma bunga yang terlalu manis, tangan pemuda itu menggenggam tangannya, dan perasaan bahwa semua ini seharusnya tidak terjadi, yang selalu datang terlambat satu napas dibanding kenyataan.
Anehnya, pada awalnya semuanya terasa baik. Rumah itu rapi dan hangat. Pemuda itu bicara lembut, menyebut namanya dengan nada yang membuatnya merasa dihargai, dan membawa pulang apa pun yang ia sebut sepintas lalu. Mereka tertawa bersama di dapur, berbagi sirih di beranda, duduk menonton senja jatuh ke laut. Kadoce sendiri bingung mengapa hatinya tenang, padahal di suatu sudut kepalanya ada suara kecil yang terus berbisik bahwa ini bukan tempatnya.
Ia mencoba memikirkan Mama dan Bapa. Setiap kali, wajah mereka muncul samar, seperti pantulan di air yang diaduk, lalu hilang sebelum sempat jelas. Ia mencoba mengingat jalan pulang. Setiap kali pula, pikirannya tergelincir seperti kaki di batu berlumut. Pemuda itu selalu ada di sampingnya pada saat-saat seperti itu, bertanya dengan lembut, “Kenapa kau melamun?” dan kabut di kepalanya menebal lagi.
Tetapi kabut tidak selamanya tebal.
Perlahan, hari demi hari, kabut itu menipis. Kadoce mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya lolos begitu saja. Betapa pemuda itu tidak pernah menjawab ketika ia bertanya dari mana asalnya. Betapa tidak pernah ada tetangga yang menyapa. Betapa setiap kali ia mendekati pintu depan, selalu ada sepasang mata yang tersenyum menunggunya di sana. Dan ketika akhirnya ia berkata, hampir tanpa sengaja, “Beta mau pulang ke Haria, menjenguk Mama dan Bapa,” senyum pemuda itu tidak berubah, tetapi matanya mendingin.
“Ini rumahmu sekarang,” katanya.
Di situlah segalanya mulai retak.
Pertengkaran pertama kecil saja, tentang sesuatu yang bahkan tak ia ingat kemudian. Pertengkaran kedua lebih keras. Ketiga, keempat, kelima, semuanya datang seperti ombak yang makin tinggi, dan nada pemuda itu yang dulu selembut nyanyian berubah menjadi sesuatu yang tajam, menuntut, dan tidak mau dibantah. Piring pecah. Pintu dibanting. Ada malam-malam ketika Kadoce meringkuk di sudut dengan tangan di dada, dan ada pagi-pagi ketika ia berjalan pelan di rumahnya sendiri seperti tamu yang takut menyenggol sesuatu. Tangan yang dulu menggenggamnya dengan lembut kini bisa menjadi kasar.
Pada suatu malam, sesudah teriakan yang paling lama, ia duduk sendirian di dapur yang gelap dan akhirnya mengerti sesuatu yang sederhana namun mengerikan: ia tidak tinggal di sebuah rumah. Ia tinggal di dalam sebuah janji yang tidak pernah ia ucapkan, yang diambil darinya di sebuah tikungan jalan pada pagi hari yang biasa.
Kadoce tidak menangis malam itu. Ia hanya duduk lama, lalu mulai berpikir seperti anak tukang kayu: pelan, cermat, dengan ukuran yang tepat. Kayu yang baik tidak dipotong dengan marah. Ia diukur dulu, ditandai, lalu dikerjakan pada waktunya.
Ia mulai menunggu.
Malam Ia Pergi
Momen itu datang pada suatu malam tanpa bulan.
Sesudah pertengkaran yang lagi-lagi panjang, pemuda itu jatuh tertidur lebih lelap dari biasanya, napasnya berat dan teratur, seolah-olah seluruh amarahnya menguras tenaganya sampai ke dasar. Kadoce berbaring di sampingnya dengan mata terbuka, menghitung napasnya, menunggu sampai ia yakin.
Setelah satu jam yang rasanya sepanjang satu tahun, ia bangkit tanpa suara.
Ia tidak membawa banyak. Ia tidak berani. Hanya beberapa helai pakaian yang ia ikat dalam sehelai kain, cukup kecil untuk dipeluk di dada. Tidak ada perhiasan, tidak ada bekal, tidak ada apa pun dari rumah itu yang ingin ia bawa. Ia hanya ingin pergi dengan apa yang paling mirip dirinya sendiri.
Pintu itu berderit pelan ketika ia mendorongnya. Ia membeku, menunggu napas di belakangnya berubah. Tidak ada. Ia melangkah keluar, menutup pintu perlahan, dan berjalan menjauh tanpa menoleh.
Malam di luar pekat dan luas. Bintang-bintang bertaburan seperti garam yang ditumpahkan di atas kain hitam. Kadoce berjalan menuju arah Saparua, mengikuti jalan setapak yang hanya ia raba dengan telapak kaki. Setiap bayangan terasa seperti seseorang. Setiap ranting yang patah terasa seperti langkah di belakangnya. Beberapa kali ia berhenti, jantungnya berdegup seperti tifa, dan menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Tetapi ketiadaan itu justru lebih menakutkan, karena ia tahu tidak ada yang mengejar belum berarti ia sudah bebas.
Ia terus berjalan. Kabut di kepalanya, yang dulu begitu tebal, sudah hampir lenyap sama sekali. Wajah Mama kembali jelas: alisnya yang sedikit berkerut ketika cemas, tangannya yang selalu berbau kayu dan sagu. Wajah Bapa kembali jelas: bahunya yang lebar, serbuk kayu di rambutnya yang mulai memutih. Ia teringat kalimat Mama pagi itu, ‘Tetap saja. Hati-hati.’ Dan ia tersenyum getir sambil terus berjalan.
Langit di timur mulai pucat. Burung pertama berkicau. Kaki Kadoce lecet, betisnya gemetar, napasnya pendek. Perutnya kosong. Ia sudah berjalan lebih jauh dari yang pernah ia kira sanggup ia lakukan, dan tubuhnya mulai menagih.
Di hadapannya, di tepi jalan setapak yang mulai melebar, berdiri sebuah pohon yang sangat besar.
Di Bawah Waringin
Orang Maluku menyebutnya pohon waringin, dan pohon yang satu ini barangkali yang terbesar yang pernah Kadoce lihat. Batangnya tidak satu, melainkan banyak, saling melilit dan bertaut, dengan akar-akar gantung yang turun dari dahan seperti tirai panjang dan menjejak tanah menjadi tiang-tiang baru. Daunnya lebat sampai cahaya pagi yang menembusnya jadi hijau pucat. Di bawahnya, tanah terasa lebih sejuk dan lebih sunyi, seolah-olah pohon itu sendiri yang mengatur seberapa banyak dunia boleh masuk.
Kadoce menurunkan bungkusan kainnya dan duduk bersandar di antara akar-akar yang tebal. Ia tahu seharusnya ia tidak berhenti. Ia tahu seharusnya ia terus berjalan, menjauh sejauh mungkin sebelum matahari naik dan pemuda itu terbangun. Tetapi kakinya menolak. Tubuhnya akhirnya menagih semua utang yang ia tunda selama berbulan-bulan.
Di sana, di bawah naungan yang teduh itu, ia akhirnya menangis. Bukan tangis keras. Hanya air mata yang turun satu-satu, menetes ke dagu dan ke kain, tanpa suara. Ia menangis untuk Mama dan Bapa yang pasti mencarinya. Ia menangis untuk bumbung bambu yang tertinggal. Ia menangis untuk anak perempuan yang pagi itu berkata bahwa Air Raja sudah seperti halaman belakang mereka.
Dan ia bertanya kepada dirinya sendiri hal yang paling menakutkan: apakah Mama dan Bapa akan menerimanya kembali? Apakah mereka akan memahami? Atau apakah orang-orang kampung akan menunjuk dan berbisik, dan ia akan menghabiskan hidupnya menjelaskan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti?
Pohon itu tidak menjawab. Tetapi di antara desir daun dan bunyi serangga, ada ketenangan yang aneh, seperti seseorang yang duduk diam di sampingnya tanpa menuntut apa pun.
‘Sebentar saja,’ bisiknya pada dirinya sendiri. ‘Aku istirahat sebentar saja. Lalu aku pulang.’
Kelopak matanya semakin berat. Suara burung menjauh, lalu pelan-pelan lenyap. Dan Kadoce, anak tukang kayu dari Kampung Haria, tertidur lelap di bawah pohon waringin, tanpa menyadari bahwa pohon itu sudah lama menunggu seseorang yang akan datang.
Cahaya di Balik Ranting
Kadoce terbangun, tetapi ia tahu bahwa ia masih tidur.
Ia tahu itu karena segalanya terlalu jelas. Warna daun terlalu hijau, bunyi di sekelilingnya terlalu murni, dan tubuhnya tidak lagi terasa lelah, seakan-akan kelelahan itu sudah dilepas dan ditinggalkan di bawah pohon bersama bungkusan kainnya. Ia duduk di antara akar yang sama, tetapi cahayanya berbeda: lebih lembut, lebih keemasan, seperti senja yang tidak pernah benar-benar jadi malam.
Lalu ia melihat cahaya itu.
Mula-mula ia mengira cahaya biasa yang menembus dedaunan. Tetapi cahaya itu bergerak. Ia tampak berasal dari balik ranting-ranting yang menggantung, tidak berkedip, tidak panas, hanya berdenyut perlahan seperti napas. Perlahan cahaya itu mendekat, dan Kadoce merasakan sesuatu yang berbeda dari pemuda di tikungan jalan dulu: tidak ada kabut di kepalanya, tidak ada tarikan tak terlihat. Ia sepenuhnya sadar, sepenuhnya dirinya sendiri, dan jantungnya berdegup keras.
Dari balik cahaya itu muncul seorang pemuda.
Ia juga tampan, tetapi dengan cara yang lain. Bukan kebersihan tanpa cela seperti pemuda pertama, melainkan sesuatu yang lebih hidup: garis lelah halus di sudut matanya, tangan yang tampak terbiasa bekerja, dan cara berdirinya yang tidak menghalangi jalan. Ia berhenti beberapa langkah dari Kadoce, tidak lebih dekat, lalu mengulurkan tangan.
“Ikutlah denganku,” katanya.
Kadoce tidak bergerak. Seluruh tubuhnya membeku pada kata-kata itu, karena ia pernah mendengar yang serupa, dan ia tahu betul bagaimana akhirnya.
“Beta sudah pernah ikut seseorang yang mengulurkan tangan,” katanya pelan, suaranya bergetar. “Dan beta tidak bisa pulang.”
Pemuda itu mendengarkan tanpa menyela. Lalu, perlahan, ia menurunkan tangannya.
“Kalau begitu aku tidak akan menarikmu,” katanya. “Aku hanya mau menunjukkan sesuatu. Kalau kau tidak mau, kau tinggal di sini. Aku tidak akan memaksa.”
Hening lama. Kadoce memperhatikan wajahnya, mencari bayang-bayang senyum yang terlalu rapi, mencari mata yang mendingin. Ia tidak menemukannya. Yang ia temukan hanya seseorang yang menunggu, dengan sabar yang tidak menuntut. Perlahan, ia berdiri.
Ia mengikuti pemuda itu, bukan karena ditarik, melainkan karena ia memilihnya. Dan ia sadar bahwa perbedaan itu, yang terdengar sepele, sesungguhnya adalah segalanya.
Cahaya di balik ranting itu terbuka seperti pintu, dan di baliknya berdiri sebuah istana.
Kadoce belum pernah melihat bangunan seindah itu, bahkan dalam cerita para nenek. Tiang-tiangnya menjulang tinggi, berkilau seperti dilapisi cahaya bulan. Atapnya berlapis-lapis seperti dahan waringin yang bertingkat. Lorong-lorongnya panjang dan lapang, dan di mana-mana tercium harum yang tidak bisa ia namai, bukan harum bunga, bukan harum kayu, tetapi sesuatu di antaranya, seperti aroma bengkel Bapa di pagi yang baru turun hujan. Ia berdiri terpana, lupa bernapas.
“Ini rumahku,” kata pemuda itu. “Aku ingin kau tinggal di sini bersamaku.”
Kata-kata itu seperti pisau dingin di dada Kadoce. Ia mundur setengah langkah. “Beta… beta tidak tahu. Beta pernah dengar kalimat seperti itu. Dan itu tidak berakhir baik.”
“Aku tahu,” kata pemuda itu. Suaranya tidak tersinggung, hanya sedih dan jujur. “Karena itu aku tidak akan meminta jawabanmu sekarang. Pintu itu,” ia menunjuk ke arah yang tadi mereka lewati, “bisa kau buka kapan saja. Aku tidak akan menghalangimu. Aku hanya berharap kau memilih untuk tinggal.”
Kadoce menatap pintu itu, lalu menatap pemuda itu. Dan untuk pertama kalinya sejak pagi di tikungan jalan, ia melihat sesuatu yang berbeda: seseorang yang membiarkan pintu tetap terbuka.
Ia berdiri lama, tangannya gemetar. Ia memikirkan Mama dan Bapa, bumbung bambu di bahunya, bau serbuk kayu. Ia memikirkan rumah yang bukan rumah, dan malam-malam ketika ia meringkuk di sudut dengan tangan di dada. Ia memikirkan semua yang telah hilang darinya, dan ia memikirkan semua yang masih bisa ia pilih.
Dan akhirnya, dengan hati-hati, seperti orang yang menjejakkan kaki di papan yang belum sepenuhnya ia percaya, Kadoce memutuskan untuk tinggal.
Penceritaan ulang legenda dari Pulau Saparua, Maluku. Alur utamanya mengikuti cerita yang tercatat; adegan, percakapan, dan suasana adalah pengembangan penulis.