Tentang Maluku

Nenek Luhu: Cerita dari Teras Rumah

Ilustrasi cerita rakyat 'Nenek Luhu', menampilkan seorang nenek yang sedang bercerita dan cucunya yang mendengarkan di teras rumah kayu tradisional Ambon. Latar belakang menunjukkan suasana gerimis dengan pemandangan Gunung Nona.
Sketsa naratif pedesaan: Seorang nenek berbagi cerita dengan cucunya di teras rumah tradisional.

Sore itu langit Ambon aneh. Matahari belum mau pamit, tetapi gerimis sudah turun pelan-pelan di atas seng.

“Nenek, kenapa kita seng boleh main di luar kalau hujan panas begini?” tanya seorang cucu sambil menarik ujung kain neneknya.

Sang nenek menoleh, lalu menepuk lantai teras di sebelahnya. “Sini duduk. Nenek cerita, supaya ose tahu kenapa.”

Negeri yang kaya cengkeh

“Dulu, jauh sebelum ose lahir, ada satu negeri bernama Luhu. Cengkehnya banyak, rakyatnya hidup tenang. Rajanya bernama Gimelaha Luhu Tuban, tetapi orang-orang biasa memanggilnya Raja Luhu. Permaisurinya bernama Puar Bulan. Anak mereka tiga: dua laki-laki, Sabadin dan Kasim, dan satu perempuan, namanya Ta Ina Luhu.”

“Ta Ina itu anak yang baik. Penurut, rajin beribadah, mandiri, dan sayang sekali sama keluarganya.”

Hari ketika Luhu jatuh

“Tapi kabar tentang kekayaan dan ketenteraman Luhu sampai juga ke telinga orang Belanda yang berkedudukan di Ambon. Mereka datang membawa senjata lengkap. Raja Luhu melawan bersama pasukannya, tetapi Luhu kalah. Raja, keluarganya, dan rakyatnya gugur dalam pertempuran itu.”

“Hanya Ta Ina yang selamat.”

“Tapi selamat itu bukan berarti bebas, cucu. Ia ditangkap dan dibawa ke Ambon, hendak dijadikan istri panglima Belanda. Pada suatu malam, ia berhasil melarikan diri.”

Pelarian ke Negeri Soya

“Malam itu juga ia berjalan sampai ke sebuah negeri bernama Soya. Raja Soya menyambutnya dengan baik dan menganggapnya bagian dari keluarga istana. Berbulan-bulan ia tinggal di sana, sampai ia sadar bahwa dirinya sedang hamil.”

“Maka ia berniat pergi. Pada malam yang sepi, ia mengendap menuju pintu belakang istana dan mengambil kuda milik raja. Ia tidak berpamitan, sebab ia tahu keluarga Raja Soya pasti tidak akan mengizinkannya.”

Gunung Nona dan Batu Capeu

“Ta Ina naik ke gunung. Di puncak, ia berhenti istirahat di bawah pohon jambu. Menjelang siang, dari kejauhan terdengar suara pasukan Raja Soya memanggil-manggilnya. Ia pun pergi. Tak lama kemudian, rombongan pengawal tiba di tempat itu dan hanya menemukan kulit jambu bekas ia makan. Dari kejadian itulah, kata orang, gunung itu dinamai Gunung Nona.”

“Ta Ina memacu kudanya menuruni lereng menuju pantai Amahusu. Anginnya kencang sekali sampai topinya terbang. Ketika ia hendak mengambilnya, topi itu berubah menjadi batu. Sampai sekarang batu itu bernama Batu Capeu.”

“Tak lama, para pengawal Soya menghadangnya. Ta Ina memohon supaya tidak dibawa pulang ke istana, sebab ia tidak mau merepotkan orang lain. Tetapi ketika salah seorang pengawal hendak menarik tangannya, ia menghilang. Hilang begitu saja, secara gaib, di depan mata mereka.”

Kenapa hujan panas

Hujan di luar mulai reda, tetapi matahari masih terik. Sang nenek menatap halaman.

“Sejak itu, orang-orang tua bilang, kalau hujan turun bersamaan dengan panas terik, sering ada anak-anak yang hilang. Katanya, itu ulah makhluk halus jelmaan Ta Ina. Orang Ambon menyebutnya Nenek Luhu.”

Cucunya merapat. “Jadi Nenek Luhu jahat?”

Sang nenek tersenyum kecil. “Nenek cuma meneruskan cerita yang dulu Nenek dengar dari orang tua Nenek. Yang Nenek tahu, ceritanya begitu.”

Ia berdiri dan menepuk bahu cucunya. “Su, masuk. Makan dulu.”


Penceritaan ulang legenda dari Maluku. Alur utamanya mengikuti cerita yang tercatat; adegan, percakapan, dan suasana adalah pengembangan penulis.

Peta Kepulauan Maluku