
Malam itu bulan bulat sempurna. Lampu teras sengaja dimatikan, supaya cahaya bulan jatuh utuh di halaman. Tiga cucu duduk berdempetan di atas tikar, dan Opa bersandar di kursi rotannya.
“Opa, cerita Suanggi,” pinta si bungsu, setengah berbisik, seolah-olah nama itu bisa mendengar.
“Ngana tahu, ini bukan cerita untuk ditakut-takuti,” kata Opa. “Ini cerita yang orang tua dulu titipkan. Dengar sampai habis, baru boleh tanya.”
Anak-anak mengangguk.
Yang menari di bawah bulan
“Kata orang dulu di Halmahera, Suanggi itu paling sering muncul pada malam hari. Wajahnya menyeramkan, kepalanya bersayap, dan ia terbang mencari mangsa. Waktu bulan penuh seperti malam ini, katanya ia suka menari.”
Si sulung menoleh ke langit. Bulan menggantung tenang, tak ada apa-apa di sana.
“Tapi itu yang diceritakan, ya. Opa seumur hidup belum pernah lihat sendiri.”
Perempuan di jalan sepi
“Lain lagi cerita dari Tobelo. Di sana, orang bilang Suanggi bisa menyamar jadi perempuan cantik. Ia berdiri sendirian di jalan yang sepi, memanggil laki-laki yang lewat. Orang tua dulu menasihati anak laki-laki mereka: kalau malam-malam ada perempuan asing yang memanggil, jangan ikut. Ada yang menyebutnya O Tokata.”
“Terus kalau ikut, Opa?” tanya si tengah.
“Kata cerita, itu yang tidak pernah baik akhirnya. Tapi coba pikir, anak-anak. Apa gunanya larangan itu bagi anak muda yang suka keluyuran tengah malam?”
Si tengah terdiam, lalu nyengir. Si sulung menahan tawa.
Pulau di selatan
“Ada juga cerita dari pulau karang di Maluku Barat Daya, yang orang sebut Pulau Batu Timbul, karena bentuknya seperti batu yang muncul dari laut. Kata penuturnya, kalau ada orang yang sakit sangat parah, arwahnya dijemput kapal gaib yang dikawal perahu-perahu kecil. Nakhodanya arwah leluhur.”
“Opa sendiri percaya?” tanya si sulung, yang sudah SMA dan mulai suka membantah.
Opa tidak langsung menjawab. Ia memandangi bulan cukup lama.
Yang lebih menakutkan dari Suanggi
“Opa percaya satu hal,” katanya akhirnya. “Orang tua dulu punya cerita Suanggi, dan cerita itu hidup sampai sekarang. Tapi Opa juga pernah dengar dan lihat yang lain. Kalau ada orang yang sakit dan tidak sembuh-sembuh, orang kampung kadang menuduh. ‘Pasti ada yang kirim.’ Lalu mencari siapa yang disalahkan.”
Suara Opa merendah.
“Dulu ada yang dituduh Suanggi, lalu hidupnya hancur. Ada yang lebih buruk dari itu. Padahal bisa saja ia cuma tetangga yang pendiam, atau nenek tua yang hidup sendirian.”
Ketiga cucu itu diam.
“Jadi ini pesan Opa, dan ini lebih penting dari semua cerita tadi. Kalau ada yang sakit, bawa ke dokter, ke puskesmas. Kalau ada yang berbeda dari kita, jangan buru-buru dicurigai. Suanggi itu cerita. Tapi tuduhan itu nyata, dan yang menderita karenanya orang betul-betul.”
Angin berembus pelan. Di kejauhan, seekor burung malam berbunyi sekali, lalu hening.
“Sudah,” kata Opa, menepuk lututnya. “Masuk. Besok ada sekolah.”
Anak-anak berdiri dan berjalan masuk pelan-pelan. Di ambang pintu, si bungsu menoleh sekali lagi ke bulan.
Tidak ada apa-apa di sana. Hanya bulan.
Penceritaan ulang legenda dari Pulau Halmahera, Maluku. Alur utamanya mengikuti cerita yang tercatat; adegan, percakapan, dan suasana adalah pengembangan penulis.