Haman Semper durhaka. Itu yang terlintas saat mendengar cerita kakek nenek di Ambon. Bentuk nasihat yang diberikan oleh ibunya selalu dibalas dengan pukulan menggunakan tongkat, tangan kosong, ataupun pisau. Sampai suatu hari, habis sudah kesabaran Ibu Haman terhadap tingkah polahnya. Ibu Haman marah dan mengutuknya.
Beberapa waktu kemudian, Haman meninggal. Dosanya yang terlalu banyak mengakibatkan bumi tidak menerimanya. Air selalu menggenangi kuburan yang digali untuk makam Haman. Akhirnya, peti mati Haman dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. Karena jiwanya tidak tenang, setiap jam tujuh malam sampai dengan jam dua belas malam, jiwa Haman mulai mengembara sambil berteriak haus… haus… keliling kampung di sekitar Kuburan Belakang Soya. Bentuknya berupa sosok yang diselubungi api yang menggelora dan menjunjung tungku api dikepalanya. Penduduk kampung memberinya julukan Haman Pardidu (Pardidu ialah pengembara dalam bahasa Portugis).
Berbagai cara dilakukan oleh warga kampung untuk menenangkan jiwa Haman, namun gagal. Joseph Kam (1769-1833) adalah pendeta di Kota Ambon yang tergerak hatinya untuk mendoakan jiwa Haman yang tidak tenang. Seiring dengan doa selesai, tungku di atas kepala Haman hancur dan mengeluarkan suara yang keras. Setelah peristiwa itu, peti mati Haman dapat dikuburkan dan keadaan kembali menjadi tenang.
Oprah: We can easily forgive a child who is afraid of the dark; the real tragedy of life is when men are afraid of the light.
Produk SaguOnito
Kaos Sablon
Haman Pardidu
185K/Pcs
DETAIL
Bahan : Katun Combed
Ukuran : S – XL
Warna : Hitam, Putih, Merah, Oranye
Ketersediaan : Pre Order
