Tentang Maluku

Menelusuri Jejak Hena Masa Waya: Dari Tradisi Lisan, Simbol Politik, hingga Ruang Ingatan Kolektif

Bagi siapa pun yang menyelami khazanah sastra lisan Maluku, nama Hena Masa Waya (atau kerap dieja Hena Masa Waja, Hiena-Masa-Waja, hingga Masawaya) menyimpan daya tarik yang berlapis-lapis. Ia bukan sekadar bait puisi adat atau nyanyian lama; ia adalah sebuah artefak budaya yang perjalanannya bersinggungan langsung dengan dinamika sejarah, tafsir identitas, hingga politik ingatan di Maluku Tengah.

Namun, mengurai jejak sebuah tradisi lisan tidak pernah sederhana. Draf kajian dokumenter terbaru yang menghimpun berbagai sumber literatur menunjukkan betapa narasi tentang Hena Masa Waya terbagi ke dalam beberapa konfigurasi teks, penafsiran bahasa, dan fungsi sosial yang terus bergeser dari masa ke masa.

Dua Wajah Konfigurasi Teks

Dalam peta dokumentasi yang berhasil ditelusuri, teks Hena Masa Waya umumnya muncul dalam dua konfigurasi besar yang memiliki karakteristik unik:

  • Konfigurasi Hunimua–Sepa: Versi ini banyak dikaitkan dengan catatan kolonial G.L. Tichelman (serta reproduksi lembar partitur E.A. Kayadoe dari Juni 1954). Di sini, rangkaian liriknya diasosiasikan dengan kisah perjalanan masyarakat Alifuru dari Honimoa (yang diidentifikasikan sebagai Saparua lama) menuju Sepa, lengkap dengan simbol rumah besar atau baileo serta lambang perlindungan adat. Varian ejaan dan terjemahannya pun beragam—mulai dari tafsir “bunga kana” hingga “biji tasibé”.

  • Konfigurasi Nunusaku–Tala–Eti–Sapalewa: Di sisi lain, dokumentasi tradisi lisan dari Negeri Latu yang dicatat oleh I.Y.M. Lattu menampilkan nuansa yang berbeda. Bait-bait di sini menonjolkan ikatan dengan Nunusaku serta tiga sungai utama di Seram: Tala, Eti, dan Sapalewa. Konfigurasi ini memperlihatkan bagaimana ingatan kolektif tentang asal-usul bersama dirawat melalui bait kapata, yang terikat erat dengan lanskap mitologis Seram.

Perbedaan konfigurasi ini menegaskan satu hal penting: variasi-variasi tersebut tidak otomatis berasal dari satu komposisi tunggal yang seragam. Mereka bisa jadi merupakan bentuk adaptasi lisan, ragam dialek, atau bahkan formula puitis yang beririsan di antara komunitas-komunitas yang berbeda di Maluku.

Dari Nyanyian Adat Menuju Simbol Politik RMS

Salah satu bab paling sering diperbincangkan dalam sejarah Hena Masa Waya adalah penggunaannya pada paruh abad ke-20. Lembar partitur susunan E.A. Kayadoe yang bertanggal Juni 1954 dengan jelas memuat label “Lagu Kebangsaan R.M.S.”.

Sejumlah sumber komunitas dan catatan sejarah menyebut lagu ini sempat dilekatkan sebagai lagu kebangsaan pada awal-awal berdirinya Republik Maluku Selatan. Kendati demikian, penelusuran kritis mengingatkan agar kita berhati-hati: dokumen tahun 1954 itu menceritakan fungsi simbolik pada masanya, bukan berarti membuktikan tanggal penciptaan awal kapata tersebut.

Dinamika politik pun berlanjut. Memasuki tahun 1960-an, posisi lagu kebangsaan tersebut bergeser ke “Maluku, Tanah Airku”. Berbagai penjelasan beredar mengenai alasan penggantian ini—mulai dari anggapan bahwa Hena Masa Waya terlalu lekat dengan nuansa keislaman karena unsur kata tasibea, hingga pertimbangan politis lainnya. Namun, karena keputusan resmi primernya belum diverifikasi secara utuh, catatan-catatan ini diposisikan sebagai narasi sejarah yang masih terbuka untuk diuji.

Reartikulasi Kontemporer: Dari Rekonsiliasi hingga Kritik Ekologis

Menariknya, riwayat Hena Masa Waya tidak berhenti di arsip politik masa lalu. Dalam beberapa dekade terakhir, nama dan semangat kapata ini mengalami reartikulasi yang menyentuh ruang-ruang sosial yang lebih luas.

Dalam buku Carita Orang Basudara, kisah-kisah perdamaian dan perjumpaan antarumat beragama di Maluku kerap menghadirkan memori kolektif tentang lagu ini sebagai simbol persaudaraan yang sempat retak. Sementara itu, dalam ranah seni pertunjukan kontemporer—seperti pementasan kolaboratif Paparisa Ambon Bergerak dalam ajang Biennale Jogja XVI (2021)—Hena Masa Waya dihidupkan kembali untuk merespons isu-isu aktual, seperti dampak ekologis dan reklamasi di Teluk Ambon.

Menjaga Kerendahan Hati Akademis

Kajian dokumenter ini pada akhirnya menyadarkan kita bahwa penulisan sejarah kebudayaan menuntut ketelitian berlapis. Asal-usul, tanggal penciptaan, siapa penutur pertamanya, hingga makna harfiah yang utuh dari Hena Masa Waya masih menyimpan banyak teka-teki.

Namun, di balik keterbatasan data arsip tersebut, terungkap sebuah kenyataan yang jauh lebih hidup: Hena Masa Waya tetap bernyawa. Ia hidup bukan sebagai teks mati di dalam museum, melainkan sebagai ruang ingatan bersama tempat masyarakat Maluku merajut kembali kisah asal-usul, merawat ikatan persaudaraan, sekaligus menyuarakan denyut zaman yang terus bergerak.

Peta Kepulauan Maluku